“Black Coffee, Please!”

Oktober 13, 2009 oleh jottingpad

Akhirnya setelah berpuluh-puluh tahun cuma saling tahu wajah dari foto dan cuma ngobrol via surat dan e-mail, sepupu saya berkunjung ke Jakarta untuk bertemu dengan ‘her other big family’. Karena ayahnya warga negara asing, maka dia pun tumbuh besar dan tinggal di luar negeri.

Kebetulan Kamis kemarin hari libur Nyepi, maka keluarga Ibu saya berkumpul di rumah untuk bertemu dengan sepupu saya ini. Namanya orang Indonesia, mana ada istilah ‘makan sekedarnya’ untuk acara begini. Dari seminggu sebelum, kami saling janjian, siapa mau bawa makanan apa. Maka malam sebelumnya saya dan istri menyempatkan waktu untuk mampir ke supermarket dan belanja bahan makanan.

“Perlu beli kopi nggak?” Tanya istriku, sementara aku mendorong kereta belanja yang cuma terisi sepertiga. Otak praktisku langsung teringat dengan 20 sachet kopi tubruk campur gula dan susu yang baru dibeli istriku. “Ngga usah, kan udah ada kopi sachet.” Jawabku enteng.

Singkat cerita, sekitar pukul 10, sepupuku dan suaminya tiba, ditemani oleh abangku dan keluarganya. Mereka memang sengaja tiba agak pagi supaya bisa ngobrol dengan orang tua saya dulu, sebelum ketemu dengan paman dan bibi dan sepupu yang lain.

Setelah bersalaman, berpelukan, bertukar rindu, kami pun duduk di kursi tamu. Sebagai tuan rumah yang baik, dengan ramahnya saya langsung menawarkan, “Would you like some coffee? Or tea?”

“Oh yes, black coffee will be nice, please.” Kata suami sepupuku. “If it’s not too much trouble,” katanya menambahkan.

Dia buru-buru menambahkan tadi rupanya karena melihat perubahan di raut wajahku.

Perubahan raut wajah yang artinya kira-kira begini, “Mampus… ngga ada kopi tubruk item!”

Tapi yang terlontar dari mulut saya adalah, “Oh, of course not! It’s no trouble at all!”

Sambil tetap tersenyum, saya pun pergi ke belakang, dan langsung menghampiri istriku dengan tampang serius dan dengan pertanyaan retoris, “Kita punya kopi item ngga, ya?”

“Kan kemarin gue udah tanya, perlu beli apa nggak. Kalo yang sachet gimana?”
“Mana mau! Orang bule kalo minta black coffee, artinya dia maunya kopi doang, ngga pake apa2,” Sanggahku.
“Ya udah, beli ke toko yang deket aja.”

Supaya tidak kelihatan oleh sepupuku dan suaminya, saya keluar lewat belakang, langsung ke depan. Maksudnya mau minta tolong supir saya untuk belikan sekantong kopi tubruk. Tapi setelah berulang kali dijelaskan dia nggak ngerti juga, akhirnya saya ambil kunci mobil kakak ipar saya yang terparkir di depan rumah, dan langsung ngebut ke mini market terdekat.

(Ngga usah nyinggung soal going green, deh. Gue ngga bisa naik sepeda, dan kalo jalan kaki malah jadi lama. Emang orang mau nunggu berapa lama sih buat secangkir kopi?)

Di dompet saya cuma ada Rp 20 ribu. Sebenarnya sekantong kopi tubruk rasa spesial harganya cuma Rp 7 ribu perak. Tapi saking gemesnya, saya ambil saja beberapa kantong kopi dengan rasa beragam. Ada kopi Aceh, kopi Lampung, dsb. Keluar dari kasir, saya cuma dapat kembalian Rp 1.000.

Saya ngebut kembali ke rumah. Istri saya dengan inisiatifnya sudah menjerang air. Dia langsung membuka plastik yang saya bawa. “Lho, ini kopinya kok banyak amat?”

“Iya, sengaja, siapa tau dia mau coba rasa kopi yang beda.” Kata saya memberi alasan.
“Yang rasa special aja juga enak. Udah yang ini aja,” katanya sambil menarik kantong kopi yang Rp 7 ribu tadi.
“Ini sisanya mau diapain?” tanya istriku.
“Ya udah, nanti gue bawa buat ngopi di kantor, deh!”

Air panas sudah mendidih. Istriku langsung menuangkan ke dalam teko plastik di mana dia sudah menaruh beberapa sendok bubuk kopi, lalu mengaduk-aduk.

Tinggal tuang kopi dalam cangkir, dan campur dengan air panas, kan?

Maaf, saudara-saudara. Tidak semudah itu. Emangnya orang bule bisa minum kopi campur ampas, seperti minum kopi di warung?

“Saringan! Ada saringan, ngga?”
“Adanya saringan buat sayur!”
“Yah, sama aja bohong dong? Lubangnya kegedean! Saringan yang halus ngga ada?”
“Ngga ada.”
“Filter coffe maker yang waktu itu kita beli, di mana?”
“Ngga tau. Ambil saringan teko yang buat bikin teh aja!”
“Emangnya bisa?”
“Bisa! Ambil aja di atas, sekalian tekonya.”

Sambil berlari ke atas, saya menyesali, kenapa tidak dari kemarin terpikir untuk membawa pulang coffee makerku dari kantor?

Singkat cerita, akhirnya dua cangkir kopi hitam terhidang. Tidak lupa satu toples gula, dan krimer bubuk, siapa tahu butuh.

Tanpa menambahkan apa pun, suami sepupuku langsung menyeruput kopinya.
“Hm, this is good coffee!” komentarnya.
“I hope it’s not too strong,” kataku.
“Oh no,” sambung sepupuku, “there’s no such thing as ‘too strong’ coffee for him.”

Lega.

Sambil saya ngebut-ngebut tadi, saya jadi terpikir sesuatu. Sepertinya selama ini kami sudah terbiasa dengan kopi yang sudah dicampur gula dan susu dari pabriknya. Sudah keenakan. Sehingga tidak terpikir untuk menyediakan kopi tubruk murni di rumah.

Saking terlalu enak, jadi malas untuk campur-campur kopi sendiri. Beli yang sudah jadi saja, biar tidak pusing.

Seolah kita sudah menyerahkan selera kita pada pabrik. Tanpa sadar, kita jadi terbiasa membiarkan orang lain menentukan apa yang cocok buat kita.

Padahal, jujur saja kopi campuran pabrik itu seringkali terlalu manis. Kita tidak tahu berapa banyak kopi, berapa banyak gula, berapa banyak krim yang dicampur ke dalamnya. Saya sendiri tidak begitu suka kopi yang terlalu manis.

Saya teringat dengan kantong-kantong kopi yang sudah saya beli. Ya harus dihabiskan, dong.

Setidaknya, sebulan ke depan saya ‘terpaksa’ harus berani membuat kopi sendiri. Menentukan selera sendiri. Tidak bergantung pada pabrik. Tidak bergantung pada orang lain.

Anti Mati Gaya

Maret 16, 2009 oleh jottingpad

Katanya supaya tidak mati gaya (“Apa pula artinya itu?” tanya seorang teman dengan logat Medan yang kental) saat kita sedang menunggu, kita perlu teknologi supaya bisa chatting, blogging, facebook, e-mail, browsing, semua dari handset ponsel kita.

Gimana kalau ponsel kita lowbatt? Atau habis pulsa? Atau lupa dibawa? Atau tidak dapat sinyal? Kalau sedang dalam penerbangan jarak jauh yang tidak bisa terhubung ke internet? Garing dong?

Berikut beberap resep anti mati gaya tanpa perlu handphone.

1. Ngobrol dengan orang yang duduk di sebelah. Padahal di sebelah ada orang, lha kok pake handphone untuk ngobrol dengan orang lain yang beda lokasi? Mulai dari senyum dulu, lalu tanya, “Sakit apa, Bu?” atau “Dapet nomor antrian berapa, Pak?” Habis itu, bisa tanya rumah di mana, kerja di mana, dan seterusnya.

Suatu kali di tempat cuci mobil, saya mengajak ngobrol seorang bapak. Beliau adalah seorang pensiunan, yang kini hidup dari mengontrakkan beberapa petak rumah. Bapak itu cerita tentang perjalanan hidupnya, dan tentang keluarganya. Alih-alih bosan menunggu, mendengar kisah si Bapak saya jadi terinspirasi untuk menyiapkan investasi untuk masa tua.

Siapa tahu dari hasil ngobrol dengan orang lain, kita tambah teman, atau bahkan dapat peluang bisnis baru. Atau dapat klien baru.

2. Membaca. Kalau ada kemungkinan kita bakal menunggu lama, siapkan bahan bacaan dari rumah. Mungkin ada majalah yang belum sempat kita baca? Atau buku yang sudah lama ngendon di rak, tapi sampai sekarang belum terbaca? Daripada cuma jadi tempat berkumpulnya debu, mending diajak pergi untuk menemani kita menunggu. Bisa juga beli majalah atau koran. Lumayan, waktu menunggu bisa dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

3. Persiapan. Bisa persiapan apa saja. Meeting besok? Presentasi? Pekerjaan yang perlu diselesaikan? Sambil menunggu kita bisa buat oret-oretan untuk menyusun ide dalam pikiran kita. Atau menyusun daftar prioritas pekerjaan, lalu membuat catatan hal-hal yang harus segera kita kerjakan. Bisa juga membuat rencana pengeluaran kita untuk minggu ini.

4. Mengamati. Kayaknya kurang kerjaan banget ya. Tapi kenyataannya memang kita sedang tidak ada kerjaan. Yang sering saya lakukan, saya mengamati bangunan atau tempat di mana saya menunggu. Saya coba mereka-reka, kenapa bangunan atau tempat itu dibuat demikian? Kenapa bangkunya disusun seperti itu?

Kenapa ibu yang duduk di seberang itu sebentar-sebentar melihat jam? Apakah dia sedang terburu-buru? Kenapa mbak yang berbaju putih kembang-kembang merah itu tidak mau duduk, biarpun ada kursi yang kosong? Apakah dia sungkan? Atau sedang ambeien?

Tanpa terasa kita mengasah imajinasi kita. Dan dengan menjaga pikiran kita aktif, maka penurunan kemampuan otak dapat dikurangi.

5. Rileks. Mumpung sedang tidak ada yang dikerjakan, kenapa kita tidak memanfaatkan waktu untuk santai? Kalau kebetulan kita sedang duduk, cobalah duduk dengan posisi sesantai mungkin. Lemaskan otot-otot kita. Pejamkan mata sejenak, berikan istirahat pada pelupuk mata kita.

6. Retrospeksi. Kita bisa merenungkan hal-hal yang telah kita lakukan hari itu, atau di hari-hari sebelumnya. Apakah kita sudah melakukan segala sesuatu secara optimal? Apakah ada yang bisa kita perbaiki? Kenapa suatu kesalahan bisa terjadi? Apa sebabnya? Apa yang saya bisa lakukan untuk menghindari terjadinya kesalahan yang sama di kemudian hari? Apakah kontribusi saya untuk tim atau untuk rekan kerja sudah maksimal? Adakah hal lain yang masih bisa saya lakukan?

Banyak yang bisa kita kerjakan di saat-saat ‘down time’ kita, tanpa harus bergantung pada teknologi. Selama kita bisa memanfaatkan waktu itu secara produktif, pasti ngga akan mati gaya, deh.

Bukan Sulap, Bukan Sihir, Uang Bisa Menguap!

Februari 18, 2009 oleh jottingpad

Beberapa hari yang lalu, Supervisor HR di kantor kami berkeliling dari satu ruangan ke ruangan yang lain sambil membawa setumpuk amplop berwarna hijau dan kuning. Dari jauh pun semua sudah tahu, itu laporan keuangan pribadi dari Dana Pensiun Lembaga Keuangan kami.

Saya menerima amplop jatah saya dan membukanya dengan pasrah. Benar saja. Hasil pengembangan terakhir minus 21%. Inilah hasilnya kalau berinvestasi di saham. Kalau naik, naiiiiiiiik, kalau turun, turuuuuun.

Dulunya 100% investasi dana pensiun saya taruh di dana pasar uang, yang naiknya lambat tapi pasti tidak akan turun. Hasil pengembangan selama 6 tahun pun lumayan. Apalagi saya termasuk yang semangat menyisihkan sebagian gaji ke dana pensiun. Sejak awal menjadi anggota DPLK, saya sudah menyisihkan 10% gaji di luar kontribusi dari Perusahaan, sementara kebanyakan teman-teman masih menyisihkan 3% – 5% saja.

Di jaman IHSG sedang panas-panasnya sampai tembus level 2700 poin, saya tergiur untuk berinvestasi saham. Saya putuskan untuk membagi dua dana yang saya miliki. Setengah tetap di dana pasar uang, setengah masuk ke saham.

Rasanya tidak sampai dua bulan kemudian, pasar modal rontok. Padahal sejak lama saya sudah sibuk memperingatkan direksi bahwa gonjang-ganjing subprime mortgage di Amerika akan sampai ke Indonesia. Saya sudah bilang bahwa para investor asing akan melakukan restrukturisasi portofolio mereka dengan menarik dana dari pasar-pasar modal, termasuk dari Indonesia. Dan dampaknya akan terasa di perekonomian kita.

Tapi tetap saja saya ngiler melihat pengembangan investasi DPLK di pasar saham yang mencapai 30%. Apalagi melihat pengembangan dana pensiun seorang teman yang naik pesat sekali. Dalam beberapa bulan, penambahannya sama dengan hasil investasi saya selama beberapa tahun!

“Ini kan jangka panjang, Pak. Nantinya juga akan naik lagi,” demikian salah seorang rekan di departemen saya menghibur, setelah mendengar misuh-misuh saya pasca membaca laporan tadi.

Saya ingat pernah mengatakan hal yang sama kepada semua rekan di kantor dalam briefing pagi. Saya bahkan membuat grafik yang menunjukkan, biarpun saham dalam jangka pendek bergerak naik-turun, tapi dalam jangka panjang trend-nya akan naik. “Jadi ibarat naik roller coaster, kalau main saham, harus punya jantung yang kuat,” demikian kesimpulan saya dalam briefing itu.

Tapi saat itu saya belum tahu bahwa 21% investasi DPLK saya akan lenyap terbawa reaksi pasar yang negatif. Setelah saya melihat dengan mata kepala sendiri hitam-di-atas-putih-nya, baru ketahuan bahwa jantung saya masih kurang terlatih untuk bertanding di pasar saham. Miris juga melihat rupiah yang lenyap itu. Dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda kapan pasar modal akan kembali bullish dan uang saya yang pergi itu bisa kembali.

Lessons learned:
1. Memang ngomong itu lebih gampang kalau belum mengalami sendiri.
2. Selalu hindari menaruh semua telur di satu keranjang. Siapa tahu keranjangnya bolong.
3. Sebelum bertindak, ingat-ingat dulu, pernah tidak ngomong yang bertentangan dengan tindakan itu. Kalau ya, percayalah pada omongan sendiri.

(Previously a Note in Facebook Profile)

Partai Golkar? Kenapa Tidak?

Agustus 28, 2008 oleh jottingpad

Sejak turunnya Pak Harto dari jabatan presiden RI tahun 1998, nama Golkar yang sedari dulu sudah carut-marut dengan reputasi yang bobrok otomatis menjadi momok. Yang dulunya seangker beringin, kemudian ditanggapi dingin. Banyak orang yang dulu coblos pohon beringin tiap pemilu, ganti haluan memilih partai lain.

Dalam Pemilu Tahun 1999, PDI-P sempat menikmati durian runtuh dari rontoknya nama Golkar dan keluar sebagai partai yang memperoleh suara terbanyak, walaupun tidak mayoritas. (Ini namanya gaya tulisan editorial sensasional.) Meski dalam pemilu juara, ternyata di parlemen PDI-P kalah suara. Sukseslah Gus Dur yang terpilih jadi presiden, dan Bu Megawati Sukarnoputri yang ketua umum PDI-P harus puas jadi wakil. Barulah setelah Gus Dur diturunkan, Bu Megawati bisa tersenyum jadi Presiden bareng Hamzah Haz sebagai wakilnya (bener ngga sih nulis namanya?).

Di masa PDI-P, negara ini ngga tambah baik, malah tambah aneh. Harga BBM melonjak drastis, korupsi makin sistematis. PDI-P pun kehilangan simpati pemilih, dan dalam 2004 gagal mengulang sukses meraih suara terbanyak. Dalam pemilihan presiden yang pertama kali dilakukan secara langsung, Bu Mega pun tidak bisa mendulang suara. Dan Pak SBY lah yang kemudian terpilih menjadi Presiden, didampingi oleh Pak Jusuf Kalla.

Di bawah pemerintahan Pak SBY, banyak pembaruan yang terjadi, terutama dalam hal pemberantasan korupsi. Mulai dari jaksa sampai pengusaha, dari wakil rakyat sampai pejabat, sedikit-sedikit kasus korupsi mulai terungkap.

Tapi hal-hal yang sifatnya fundamental kurang terjamah. Seperti kesejahteraan rakyat, pengentasan kemiskinan, penyediaan pendidikan murah, dan seterusnya. Sampai timbul kesan bahwa penumpasan korupsi yang sekarang ini marak sebenarnya lebih merupakan hasil kerja dadakan untuk menutupi kelemahan-kelemahan dalam bidang lain.

Jadi siapa yang sebaiknya dipilih dalam pemilu tahun 2009 mendatang?

Kalau partai yang sudah mapan saja tidak mampu membuat perubahan yang berarti bagi rakyat, apalagi partai-partai baru?

Jadi, apa salahnya kalau memilih Partai Golkar kembali?

Memang track record partai ini tidak mulus. Tapi situasi sekarang sebenarnya cukup memungkinkan bagi Partai Golkar untuk berprestasi lebih baik:

1. Berkat Gus Dur, sekarang kebebasan pers yang mendukung terciptanya Good Governance sudah lebih terjamin. Jaman Golkar jaya dulu kan ini belum ada. Makanya pemerintah dan DPR/MPR bisa main kucing-kucingan.

2. Adanya Komisi Pemberantasan Korupsi. Supaya citranya bagus di mata masyarakat (berkat adanya kebebasan pers), KPK harus rajin bekerja. Dan tentu saja ini berarti Partai Golkar harus hati-hati menjaga citranya, agar jangan sampai ada kadernya yang berurusan dengan KPK.

3. Adanya sistem pemilihan langsung. Ini berarti secara partai, Partai Golkar harus mempunyai nama yang baik supaya dapat meraih simpati pemilih pada calon-calon yang didukungnya.

4. Adanya partai-partai yang galak dalam mengkritik pemerintah. Tentu hal ini penuh dengan permainan dan rekayasa politik. Tapi setidaknya Partai Golkar tidak bisa lagi berbuat seenaknya tanpa menimbulkan polemik seperti di jaman Pak Harto dulu.

Dengan alasan-alasan ini, mungkin ada baiknya memberikan kesempatan kedua pada Partai Golkar. Kalau prestasinya bagus, kita senang, kalau hasilnya sami mawon dengan sebelum-sebelumnya, ya setidaknya kita bisa maklum. Namanya juga Golkar.

Sekolahku Kebakaran!!!

Juli 30, 2008 oleh jottingpad

Labschool kebakaran! Kabarnya, sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Jakarta sedang berada di Teater Besar UNJ, melakukan percobaan penghematan bahan bakar pada sebuah sepeda motor. Tiba-tiba motor tersebut terbakar! Api segera menyambar, meludeskan Teater Besar, dan merembet ke gedung-gedung SMP Labschool dan SD IKIP Jakarta yang bersebelahan. Lantai atas habis terbakar.

Foto-foto bisa dilihat di:

http://foto.detik.com/readfoto/2008/07/30/175219/980248/464/1/api-mengamuk-di-unj

Sariawan!

Juli 25, 2008 oleh jottingpad

Salah satu hal yang tidak menyenangkan yang gue warisi dari bokap adalah kecenderungan untuk kena sariawan di saat-saat yang tidak menguntungkan. Dan sekarang ini, gue lagi sariawan yang sakitnya minta ampun!

Yang bikin sebel, yg rada bikin ngenes, sariawan ini karena salah gue sendiri. Ceritanya gue kan suka ketiduran di tempat-tempat yang tidak semestinya. Nah, ternyata pas tidur itu secara tidak sengaja lidah gue kegigit! Dan dari situlah segala penderitaan gue sekarang bermula. Minta ampun.

Gue tadi sampe lemes nahan sakit waktu makan siang. Kesenggolnya dikit tapi sakitnya ngga tanggung-tanggung! Padahal tadi malem udah dikasih Albothyl. Terus tadi pagi dikasih lagi. Eh, masih sakit juga.

Untung gue tergolong orang yang ngga mau rugi. Sariawan ngga sariawan, makn tetep jalan!

Tertunda

Juni 16, 2008 oleh jottingpad

Saya dan Nine saling memandang dengan wajah terkejut. Sejenak kami tidak berkata apa-apa dan menajamkan telinga untuk memastikan bahwa kami tidak salah dengar. Sekali lagi pengeras suara di ruang tunggu bandara Polonia Medan berderak-derak, mengumandangkan pengumuman yang terdengar patah-patah seperti suara robot, “Kepada penumpang pesawat tujuan Jakarta, karena alasan teknis pesawat anda akan tiba di Bandara Polonia Medan pada pukul dua puluh lewat tiga puluh menit waktu setempat.”

Padahal kami baru saja duduk setelah bergesa-gesa masuk ke ruang tunggu untuk penerbangan pukul 19.10. Kalau pesawatnya tiba jam 20.30, berarti setidaknya kami baru akan lepas landas pukul 21.30, dan tiba di Jakarta pukul 23.30.

“Terus, kita ngapain dong?” cetus Nine dengan senyum pahit. Hm, kalau soal apa yang kita lakukan sambil menununggu, itu sih gampang. Apalagi untuk saya yang dari tadi memang mencari-cari kesempatan untuk bisa meng-update blog ini melalui handphone.

Yang jadi masalah lebih besar adalah karena tadi kami terburu-buru, kami belum makan. Sementara Nine harus segera minum obat untuk mengatasi migrennya yang sedang kambuh. Minum obat kan harus makan dulu?

Setiba di bandara sore tadi, kami harus meniti jalan di antara tumpukan pasir dan tanah yang becek bercampur semen, limpahan dari sebuah bangunan satu lantai di bagian depan terminal, yang masih dikerjakan. “Ini bangunan apa, Pak?” tanyaku pada portir yang membantu mendorong kereta berisi barang-barang kami. “Itu nantinya berisi toko-toko Bang,” katanya dengan logat Medan, “sejak kebakaran tempo hari, tidak boleh lagi ada toko makanan di dalam terminal.”

Dan memang benar, sama sekali tidak ada penjual makanan dalam terminal. Bekal yang ada pada kami hanyalah roti kasur sisa sarapan Nine tadi pagi yang tidak habis, satu bungkus peyek yang tadi saya beli di toko oleh-oleh, dan satu botol air mineral yang saya bawa dari hotel. Di luar terminal memang ada beberapa toko dan restoran. Tapi setahu saya, kalau sudah masuk ke ruang tunggu, penumpang tidak bisa lagi keluar dari terminal.

Sementara Nine pergi salat, Saya menelpon Vero, menceritakan tentang keterlambatan pesawat kami, dan situasi kami yang terancam kelaparan. Ya tidak kelaparan sih, tapi pasti ada konsekuensi kesehatan kalau kami tidak segera mengisi perut. Minimal masuk angin. “Coba aja keluar cari makan. Siapa tahu boleh,” kata Vero. Keluar dari terminal setelah masuk ruang tunggu? Mana bisa? Tapi kami tidak punya pilihan selain mencoba usul pragmatis istriku itu.

Sekembali Nine dari salat maghribnya, saya pergi ke depan ruang tunggu. Setelah melewati petugas yang sibuk memeriksa bawaan penumpang dengan peralatan x-ray, saya menghampiri petugas yang berjaga di depan. “Pak, boleh permisi keluar sebentar, mau cari makan?” kataku sesopan mungkin sambil menunjukkan boarding pass. Dengan lambaian tangannya Pak Petugas mengizinkan saya lewat.

Setelah mengenyangkan perut dengan soto ayam, saya kembali ke terminal dengan menjinjing plastik berisi sebotol air mineral, dan dengan memegang semangkuk mie instan yang sudah diseduh. Karena pintu masuk ramai dengan orang yang sedang antri untuk pemeriksaan barang, dengan sedikit was-was saya mendekati pintu yang seharusnya hanya untuk keluar terminal. Di depanku seorang petugas berdiri dan menatapku dengan pandangan bertanya. “Pesawatnya delay, Pak!” kata saya sambil tersenyum lebar, menjelaskan kenapa saya keluar terminal dan juga benda-benda bawaan saya. Petugas tadi mengangguk paham dan membiarkan saya masuk. Bapak yang tadi memberiku ijin keluar ruang tunggu langsung memberi saya lewat setelah memeriksa ulang boarding passku. Bahkan juga para petugas yang mengawaki mesin x-ray, walaupun metal detector gate mengeluarkan bunyi nyaring saat saya melintasinya.

Akhirnya mie instan tadi tiba dengan selamat ke tangan pemesannya. Nine segera melahap mie tadi sampai habis, dan segera minum obat. “Untung tadi kamu kasih usul untuk coba keluar cari makan,” ketikku dalam SMS kepada istriku, menceritakan petualangan kecilku tadi.

Setelah perut terisi, menunggu tidak lagi terasa berat. Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 20.25, dan di luar terminal sebuah pesawat Airbus A320, berlogo maskapai penerbangan yang sedang kami tunggu-tunggu, meluncur menyelesaikan pendaratannya. Pesawat kami sudah tiba!

Sambil berdiri dalam antrian, menunggu pintu dibuka untuk penumpang dapat naik ke pesawat, saya terpikir akan para petugas bandara tadi. Kalau dibandingkan dengan petugas bandara di negara lain yang pernah saya lihat, mereka mungkin bisa dikatakan tidak menjunjung peraturan. Di mana pun juga, penumpang tidak bisa keluar masuk terminal sembarangan. Yang pernah saya alami, sewaktu kembali masuk saya harus sekali lagi melewati pemeriksaan. Coba bayangkan kalau mie instan tadi harus masuk mesin x-ray. Apa tidak akan tumpah?

Saya bersyukur bahwa para bapak petugas tadi bekerja tidak saja dengan aturan, tetapi juga dengan empati. Tanpa pengertian mereka, mungkin kami sudah setengah mati kelaparan. Bahkan mungkin sakit karena terlambat makan. Kami kan bukan cenayang yang bisa tahu jauh sebelumnya bahwa pesawat akan terlambat sekian lama.

Di balik kebijakan aneh pengelola bandara yang sangat tidak passenger friendly dengan tidak mengijinkan adanya tempat makan dalam terminal, keberadaan bapak-bapak petugas tadi memberikan kelegaan bagi penumpang yang sedang sial seperti kami ini. Mudah-mudahan kebaikan hati mereka tidak dimanfaatkan oleh orang-orang yang berniat jahat.

Sekelumit dari Medan

Juni 16, 2008 oleh jottingpad

Udara kota Medan yang menerpa wajah terasa sejuk, sekalipun termometer menunjuk suhu 30 derajat. Becak motor yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan stabil, melewati jalan-jalan yang semakin sepi menjelang pukul 10 malam. Warna keemasan lampu-lampu jalan ditaburi dengan neon reklame beragam warna, seolah memberi riasan pada wajah malam yang semakin larut.

Kami dalam perjalan kembali ke hotel setelah menghabiskan satu jam, empat porsi dimsum, segelas teh bunga, segelas jus jambu, saat berbincang-bincang di Merdeka Walk. Dibandingkan dengan Cilandak Town Square di Jakarta dan Cihampelas Walk serta Paris Van Java di Bandung, ini baru tempat nongkrong bersuasana open air yang sesungguhnya.

Berbeda dengan sepupu-sepupunya di Jakarta dan Bandung yang dirancang berupa satu massa bangunan massif multi lantai, lokasi Merdeka Walk yang menjejeri Jalan Merdeka hanya diisi dengan beberapa bangunan kecil. Kebanyakan restoran maupun kafe yang ada di situ dirancang berbentuk tenda tanpa dinding. Sisa ruang yang ada diisi dengan ratusan meja dan kursi, serta beberapa kios yang sebagiannya menjajakan makanan kudapan, pulsa ponsel, barang pernak-pernik, DVD bajakan, dan sisha.

Di musim liburan sekolah ini, malam menjadi lebih panjang bagi sebagian besar orang, khususnya anak-anak sekolah. Tentu saja saat kami tiba di sana, tempat di sekitar Tenda Nelayan sudah penuh. Beruntung masih ada dua meja di ujung yang kosong. Kami duduk di meja dengan empat kursi. Belum selesai menarik kursi ke posisi yang enak, tiga orang dari tiga kios dan restoran yang berbeda mendatangi kami, menawarkan makanan dan minuman. Untung saja datang seorang pelayan yang membawa satu nampan berisi berbagai jenis dimsum untuk kami pilih.

Sebenarnya tujuan awal kami bukanlah ke Merdeka Walk, tapi ke Sun Plaza, sebuah pusat perbelanjaan yang populer di kota Medan, tempat di mana kami makan sore tadi. “Waktu itu aku makan dimsum enak di Merdeka Walk,” kisah Nine dengan suara yang agak dikeraskan supaya bisa mengalahkan deruman mesin betor. “Kalo gitu kita ke sana aja,” usulku. Setelah berbicara dengan pengemudinya, betor kami pun berubah haluan.

Kami memutuskan untuk pergi setelah jenuh dengan kamar hotel kami. Setelah menyelesaikan data yang akan aku presentasikan dalam pertemuan dengan kepala cabang Medan besok, pandanganku jatuh pada dua bungkus keripik kentang yang sudah aku habiskan sementara bekerja tadi. Aku sudah hopeless dengan acara televisi. Seandainya aku penggemar sepakbola, siaran pertandingan antara Rusia dan Yunani di ajang Euro 2008 tentu sudah cukup menjadi alasan untuk tinggal di kamar. Sayangnya aku tidak begitu menggemari sepakbola.

Mendadak ruangan tanpa jendela, bercat putih dengan penerangan lampu neon yang suram itu terasa menyesakkan. Memang secara penampilan luar, sudah banyak perbaikan yang dilakukan sehingga terlihat lebih apik. Tapi selebihnya masih perlu perbaikan lebih lagi.

Setelah menutup komputer laptop, aku mengantongi dompet dan handphone. Maksudku ingin pergi sebentar keluar, siapa tahu di hotel ini ada tempat yang menjual cemilan. Sebelumnya aku mampir ke kamar Nine. Ternyata di depan pintu kamarnya sudah ada petugas maintenance yang menekan bel. Sementara bapak petugas membetulkan jack kabel antena televisi yang lepas, kami pun bertukar informasi mengenai kekurangan dari hotel itu.

“Tadi di kamar gue tidak ada handuk. Gue baru sadar setelah selesai mandi.”
“TV-nya tadi tiba-tiba gambarnya makin jelek. Setelah gue cek, ternyata kabelnya sudah mau copot.”
“Tidak ada pemandangan keluarnya, ya?”
“ Ada air panas tidak di kamar mandi?”
“Seperti kamar kost. Gangnya saja seperti gang rumah kost.”
“Jadi ingat rumah kost-ku dulu di Karet.”
“Nongkrong aja yuk!”

Sejenak kemudian kami sudah selesai bertukar pakaian dan siap berangkat.

Setelah puas mengobrol dan makan dimsum, kami pun beranjak untuk pulang ke hotel. Keluar dari gerbang Merdeka Walk, di seberang jalan terlihat jejeran becak bermotor. Seorang pengemudi yang sedang duduk dalam betornya menatap kami dengan penuh harap sambil mengucapkan sesuatu. Tidak jelas apa yang dikatakannya, tapi sepertinya dia menawarkan jasa betornya kepada kami. Melihat kami yang mulai melangkah menuju pangkalan betor itu, dengan tangkas dia melompat dari jok nya, naik ke motor, menyalakan mesin, dan mendatangi kami dengan penuh semangat sampai saya harus melompat minggir. Sedikit saja dia terlambat mengerem, setang betor itu sudah mengenaiku.

“Bang, ke hotel berapa?” tanya Nine.
“Tiga puluh deh.”
“Lho, yang tadi mengantar mau [dibayar] dua puluh.”
“Itu kan kalau berangkat. Jalannya lempeng. Kalau arah balik jalannya berpusing lebih jauh.”
“Dua puluh lima deh.”
“Tanggung dik, bulat tiga puluh deh. Kapan lagi ke Medan, kan?” kata si abang pengemudi dengan wajah jenaka.

Huh, si abang ini tahu saja kalau kami turis di kota Medan. Akhirnya kami mengalah, dan menaiki betornya.

Di tengah jalan kami melihat deretan rangkaian bunga ucapan selamat dari berbagai instansi dan perusahaan, memberi selamat kepada gubernur Sumatera Utara yang baru. Kami ingat sekali sehari ini kami sudah beberapa kali melewati tempat itu.

“Bang, katanya jauh. Ini kan sudah dekat?” Nine protes pada si abang.
“Ini masih jauh, Dik. Bener deh, percaya sama saya.” Jawab si abang dengan yakinnya, dan dengan senyum lebar yang memamerkan deretan gigi yang putih, kontras dengan kumisnya yang hitam keriting dan wajahnya yang berkulit gelap. Kami tertawa mendengar jawabannya.

“Iya deh, percaya sama yang punya Medan,” celetuk Nine. Kali ini gantian si abang yang tertawa. Tidak lama kemudian dia membelokkan betornya memasuki sebuah ruas jalan, melintasi rambu bertulisan, “Daerah Bebas Becak Dayung dan Becak Bermotor”. Tanpa rasa sungkan dia terus melaju, seolah-olah sepanjang jalan itu betor bebas melintas kapan saja sesuka hati. Tapi tidak ada polisi yang tiba-tiba muncul dari balik bayangan pohon untuk menilang.

Bertolak belakang dengan suasana siang hari yang panas, ramai, berdebu, di mana orang berebut ingin lebih dulu dalam apa saja, di malam hari Medan terasa lebih nyaman dan lebih bersahabat. Bahkan juga pengemudi becak motornya.

Ulang Tahun

Juni 9, 2008 oleh jottingpad

Hari ini saya berulang tahun. Tadinya saya kepingin tidak masuk kantor hari ini. Entah kenapa, rasanya agak malas saja. Pikir-pikir enak juga kalau sekali-sekali menikmati hari ulang tahun di hari kerja dengan tidak bekerja. Sayangnya, saya tidak ketemu alasan yang bagus untuk izin. Kalau tahun 2006, kebetulan KTP dan SIM saya kadaluwarsa bersamaan. Jadi saya punya alasan kuat untuk izin dari kerja.

Untung juga di kantor ada rekan yang hari ulang tahunnya persis sama dengan saya. Minggu lalu dia mendekati saya dan dengan suara pelan bertanya, “Hari Senin gimana?” Karena saat itu saya sedang dalam serious mode, saya lupa untuk pura-pura lupa (bisa begitu ya?). Setelah pikir sana pikir sini, kami patungan untuk mentraktir teman-teman yang lain makan siang. Mbak di rumah yang masak, dan hasilnya diboyong ke kantor. Berhubung harga semakin mahal, ya kali ini cuma ada lauk dan nasi saja, tidak ada es buah atau makanan penutup lain seperti tahun-tahun lalu.

Selain orang-orang kantor yang antri mengucapkan selamat (namanya juga mau ditraktir makan) aya menerima beberapa SMS dan juga telepon hari ini dari teman, kenalan dan saudara yang mengucapkan selamat ulang tahun. Sahabat saya yang di Jerman pun mengirimkan SMS. Senang juga, dia ingat ulang tahun saya meskipun jauh. Ada juga sih sahabat dekat yang sampai saat ini SMS maupun telponnya tidak membuat handphone saya berdering. Yah, mungkin mereka sibuk menjalani hari ini.

Tahun ini usia saya genap 33 tahun. Sudah lumayan banyak. Ditambah 4 bulan lagi, maka resmilah saya berusia 33 satu per tiga tahun, atau sepertiga abad. Kalau diibaratkan dengan hari, maka usia saya sudah menjelang siang. Kira-kira jam 11.00 lah.

Kata ‘Buku Pintar’ yang pernah saya baca, angka ‘3′ adalah angka keberuntungan saya. Walaupun sebenarnya saya tidak percaya dengan hal seperti itu, tapi ide itu sering terbawa secara tidak sadar. Sebagai hasilnya, saya senang dengan bilangan-bilangan yang merupakan kelipatan 3. Angka 33, misalnya, bisa dilihat sebagai dua angka ‘3′ yang berurutan. Dengan kata lain, saya punya keberuntungan ganda, atau setiap kali saya beruntung, maka untungnya itu akan datang berdua-berdua, tidak sekali-sekali. Atau, bisa dilihat juga sebagai pelipatgandaan angka ‘3′ sebanyak 11 kali. Yang artinya, saya 11 kali beruntung.

Tentu saja sebagai implikasinya, semakin umur saya bertambah, saya semakin beruntung. Bayangkan saja, saat saya berulang tahun ke-84, misalnya, berarti saya akan beruntung sebanyak 28 kali lipat!

Seandainya saja hukum ekonomi sesederhana itu, di mana peruntungan ekonomis seseorang merupakan fungsi eksponensial dari usia orang tersebut berdasarkan kelipatan angka keberuntungannya!

Saya merasa banyak hal yang belum terjadi dalam hidup saya. Masih banyak yang belum saya lakukan. Saya merasa banyak tulisan yang belum saya tulis, banyak gambar yang belum saya buat, banyak musik yang belum saya mainkan. Banyak tempat yang belum saya kunjungi, banyak orang yang belum saya temui, dan banyak pengalaman yang belum saya miliki.

Waktu terus berjalan, sementara akhir dunia dari dunia yang fana ini semakin dekat.

Seperti kebanyakan orang di dunia ini, saya ingin bisa berusia panjang, saya ingin tetap sehat, dan saya ingin terus tentram. Tapi lebih umur panjang, saya ingin hidup saya bermakna. Dan apa yang bisa memaknai hidup ini lebih dari senyum Sang Khalik yang berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaKu yang Baik dan Setia.”

Kembalikan Baliku

Juni 2, 2008 oleh jottingpad

Omong-omong soal Indonesia, saya jadi ingat pengalaman pahit-pahit manis waktu berbulan madu di Bali tahun 2006 yang lampau.

Saya sedikit geli kalau ingat tour yang saya dan Vero ambil. Waktu itu, sekitar hari ketiga kami di sana, kami sudah puas melihat-lihat sekitar Ubud, dan kepingin melihat lebih banyak tempat lain di Bali. Setelah berkeliling dari satu toko ke toko lain, akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti sebuah tour yang posternya ditempel di kaca sebuah perpustakaan merangkap toko buku bekas. Kami membayar ongkos yang diminta, lalu menunggu kendaraannya menjemput kami.

Kami agak terkaget-kaget ketika yang muncul adalah sebuah Kijang keluaran awal 90-an tak ber-AC berwarna hijau militer, yang hampir penuh dengan berbagai jenis turis. Kami adalah penumpang terakhir yang dijemput, dan satu-satunya turis domestik dalam mobil itu. Maklum, jarang ada orang Indonesia yang mau berlibur di daerah Ubud yang sepi. Kebanyakan lebih memilih daerah Kuta yang lebih meriah.

Setelah shock pertama tadi, kami pun mendapat kejutan berikutnya. Salah satu obyek wisata yang kami kunjungi dalam tour itu adalah rice terrace. Yang terbayang dalam benak tentunya bukit berundak-undak dengan sawah yang disusun seperti tangga, dengan sebuah tempat di mana kami bisa menyaksikan pemandangan itu dengan leluasa. Yang kami dapatkan? Mobil itu masuk ke sebuah tempat parkir, lalu kami dibawa masuk ke halaman rumah entah milik siapa, dan di situ kami ditunjukkan hamparan sawah yang hijau. Pemandangannya bagus, tapi untuk melihatnya sampai masuk ke halaman rumah orang itu lho …

Setelah melihat-lihat sebuah Pura yang saya lupa apa namanya, kami berkunjung ke Monkey Forest. Tempat yang cukup menarik, di mana monyet-monyet bebas berkeliaran, dan kelelawar raksasa bergelantungan di dahan-dahan pohon. Sampai ketika akan pulang, pemandu kami dengan memelas meminta kami untuk berbelanja di kios miliknya. “Sudah diatur begini, supaya penjual tidak berebut mencari pembeli,” katanya. Akhirnya kami membeli dua pasang baju anak-anak untuk keponakan kami dengan harga yang jauh lebih mahal daripada kalau dibeli di tempat lain. Sepasang turis asal Jepang dalam rombongan kami akhirnya membeli sebuah suvenir kecil, sementara para turis bule acuh saja.

Dan tibalah kami pada akhir tour yang bagi saya sangat menyedihkan. Kami tiba di Tanah Lot untuk menyaksikan matahari terbenam. Kebetulan pasang sedang surut sehingga celah yang memisahkan Tanah Lot dengan daratan kering dan kami bisa berjalan-jalan di situ. Hati saya kecut melihat sampah-sampah yang bertaburan di mana-mana. Sangat kotor.

Kami melihat sekumpulan orang bergerombol di mulut gua yang terdapat di bawah tebing yang menjulur dari daratan. Katanya di situ ada ‘ular sakti’. Kami pun ikut masuk ke dalam gua. Di gua yang gelap itu, duduk seorang bapak yang mengelus-elus seekor ular, sementara seorang bapak lain memegang lampu senter agar orang bisa melihat ular tersebut. Hey, sepertinya tidak ada yang istimewa dengan ular itu. Dengan sedikit kecewa kami berjalan keluar. Tiba-tiba seorang bapak mencegat kami. “Bayar dulu, dik,” katanya. “Tapi kami kan cuma ngintip sebentar Pak,” protes istriku. “Tetap harus bayar,” bapak itu tak bergeming.

“Oh, itu rupanya kenapa ular itu disebut ‘ular sakti’. Soalnya si reptil itu bisa menghasilkan uang bagi pemiliknya,” pikirku dongkol.

Sore itu mendung menutupi matahari dengan rapatnya, sehingga sunset yang ditunggu-tunggu akhirnya berlalu tanpa bisa kami saksikan. Dengan kecewa akhirnya kami berkumpul dengan rombongan untuk kembali ke Ubud.

Sepanjang perjalanan tadi, karena mendapat tempat di depan, saya banyak mengobrol dengan driver yang mengantar kami. Pak Nyoman, begitu panggilannya, menawarkan diri untuk mengantar kami dalam tour pribadi ke tempat-tempat yang belum sempat kami lihat hari itu. “Nanti saya usahakan pakai mobil Innova yang ber-AC deh,” katanya. Kami pun bersepakat tentang harga dan jam kami dijemput.

Kami sudah tidak terkejut lagi ketika yang muncul menjemput kami di hotel keesokan harinya bukan Innova ber-AC yang nyaman, tapi sebuah Daihatsu Espass tanpa AC. “Mobil yang bisa saya pakai cuma ini,” kata Pak Nyoman minta maaf.

Sekali lagi kami dibawa melihat rice terrace. Sementara asyik mengobrol dalam perjalanan, tiba-tiba mobil menepi. “Ini dia tempatnya,” kata Pak Nyoman. Meski tempatnya hanya pinggiran jalan yang diperlebar, kali ini sedikit lebih baik dibanding kemarin, karena memang disediakan khusus untuk melihat sawah bertingkat. Di situ ada beberapa toko suvenir yang (syukurnya) belum buka. Kami menghabiskan beberapa menit untuk melihat-lihat dan mengambil foto.

Kami kemudian diajak mengunjungi Pura Tampak Siring. Di sana kami disambut oleh seorang pemandu yang sudah tua. Sambil berjalan memasuki kompleks Pura, bapak itu menjelaskan banyak hal mengenai sejarah tempat tersebut. Termasuk sebuah rumah di atas bukit di mana orang bisa melihat seluruh Pura dengan leluasa. “Itu dibangun oleh Bung Karno, supaya beliau bisa melihat orang-orang yang sedang (maaf) mandi di pancuran Pura,” jelas bapak itu.

Menjelang masuk ke tempat persembahyangan di bagian terdalam Pura, pemandu kami tiba-tiba berhenti. “Maaf ya, saya tidak bisa mengantar ke dalam. Di keluarga saya ada yang baru kematian sehingga saya tidak boleh masuk ke dalam Pura. Silakan melihat-lihat di dalam, kalau ada yang ingin ditanyakan nanti akan saya jawab,” katanya. Sementara kami berlanjut berjalan memasuki gerbang tempat upacara, bapak itu duduk di sebuah batu, dan kemudian sibuk dengan telepon genggamnya. Wah … tahu begini kan lebih baik cari pemandu lain yang tidak sedang ‘halangan’.

Di Pura Besakih, ceritanya beda lagi. Sesampainya di sana, kami langsung disambut oleh petugas-petugas dengan pakaian tradisional. Setelah kami membayar tiket masuk, kami langsung dijejeri oleh seorang pemandu yang masih muda. “Mari saya antar,” katanya dengan ramah. Tanpa prasangka apapun, kami menerima tawarannya. Pemandu tadi membawa kami melihat kompleks Pura, sambil menjelaskan tentang ini-itu. Kami juga diajak untuk ikut bersembahyang dalam sebuah pura kecil. “Biasanya kalau bersembahyang, sudah menjadi tradisi untuk memberikan sumbangan bagi pemeliharaan Pura. Jumlahnya boleh berapa saja, diletakkan dalam sesajen,” kata pemandu kami. Waduh …

Setelah selesai berkeliling Pura, tiba-tiba pemandu kami mengajak kami ke sebuah sudut yang sepi. Dia kemudian secara terus terang meminta tips atas jasa pandunya. Tentu saja kami tidak keberatan, karena kami pikir sudah sewajarnya dan paling jumlahnya tidak seberapa. Makanya kami kaget waktu dia bilang begini, “Biasanya sih saya diberi delapan puluh ribu rupiah.” Spontan kami protes. Waktu kami mau memberikan uang dua puluh ribu rupiah, dia tampak kesal dan mau menolak. Akhirnya dia terima juga, tapi dengan embel-embel, “ngasihnya ikhlas kan?” yang kami iyakan dengan jengkel.

Sedih rasanya kalau ingat pengalaman-pengalaman tadi. Sepertinya uang jadi sesuatu yang utama di Bali, sampai-sampai Tanah Lot dibiarkan kotor ketimbang mengeluarkan dana pemeliharaan untuk membersihkannya. Sampai-sampai pekarangan orang pun dijadikan tempat untuk turis. Sampai-sampai orang diajak sembahyang supaya memberikan sumbangan untuk Pura. Sampai-sampai tidak malu untuk meminta tips yang besar, padahal semestinya tips itu adalah sesuatu yang sukarela sifatnya.

Tentu saja tidak semua orang di Bali bersifat money oriented seperti itu. Banyak orang Bali yang baik, seperti Pak Nyoman yang mengantar kami tadi. Entah kenapa sebagian orang bisa menjadi seperti itu. Seolah-olah menjadi daerah pariwisata adalah identik dengan menjual identitas diri sendiri.

Saya jadi miris kalau ingat sekali waktu di Pasar Sukowati ada ibu-ibu yang mengejar-ngejar saya sambil memelas supaya saya membeli gelang-gelang kayu dagangannya. Padahal Bali adalah tanah kelahirannya. Kenapa jadi memohon-mohon kepada pendatang seperti saya untuk bisa mendapatkan nafkah?

Jangan-jangan ini sudah jadi penyakit tidak saja di Bali, tapi di seluruh Indonesia?