Akhirnya setelah berpuluh-puluh tahun cuma saling tahu wajah dari foto dan cuma ngobrol via surat dan e-mail, sepupu saya berkunjung ke Jakarta untuk bertemu dengan ‘her other big family’. Karena ayahnya warga negara asing, maka dia pun tumbuh besar dan tinggal di luar negeri.
Kebetulan Kamis kemarin hari libur Nyepi, maka keluarga Ibu saya berkumpul di rumah untuk bertemu dengan sepupu saya ini. Namanya orang Indonesia, mana ada istilah ‘makan sekedarnya’ untuk acara begini. Dari seminggu sebelum, kami saling janjian, siapa mau bawa makanan apa. Maka malam sebelumnya saya dan istri menyempatkan waktu untuk mampir ke supermarket dan belanja bahan makanan.
“Perlu beli kopi nggak?” Tanya istriku, sementara aku mendorong kereta belanja yang cuma terisi sepertiga. Otak praktisku langsung teringat dengan 20 sachet kopi tubruk campur gula dan susu yang baru dibeli istriku. “Ngga usah, kan udah ada kopi sachet.” Jawabku enteng.
Singkat cerita, sekitar pukul 10, sepupuku dan suaminya tiba, ditemani oleh abangku dan keluarganya. Mereka memang sengaja tiba agak pagi supaya bisa ngobrol dengan orang tua saya dulu, sebelum ketemu dengan paman dan bibi dan sepupu yang lain.
Setelah bersalaman, berpelukan, bertukar rindu, kami pun duduk di kursi tamu. Sebagai tuan rumah yang baik, dengan ramahnya saya langsung menawarkan, “Would you like some coffee? Or tea?”
“Oh yes, black coffee will be nice, please.” Kata suami sepupuku. “If it’s not too much trouble,” katanya menambahkan.
Dia buru-buru menambahkan tadi rupanya karena melihat perubahan di raut wajahku.
Perubahan raut wajah yang artinya kira-kira begini, “Mampus… ngga ada kopi tubruk item!”
Tapi yang terlontar dari mulut saya adalah, “Oh, of course not! It’s no trouble at all!”
Sambil tetap tersenyum, saya pun pergi ke belakang, dan langsung menghampiri istriku dengan tampang serius dan dengan pertanyaan retoris, “Kita punya kopi item ngga, ya?”
“Kan kemarin gue udah tanya, perlu beli apa nggak. Kalo yang sachet gimana?”
“Mana mau! Orang bule kalo minta black coffee, artinya dia maunya kopi doang, ngga pake apa2,” Sanggahku.
“Ya udah, beli ke toko yang deket aja.”
Supaya tidak kelihatan oleh sepupuku dan suaminya, saya keluar lewat belakang, langsung ke depan. Maksudnya mau minta tolong supir saya untuk belikan sekantong kopi tubruk. Tapi setelah berulang kali dijelaskan dia nggak ngerti juga, akhirnya saya ambil kunci mobil kakak ipar saya yang terparkir di depan rumah, dan langsung ngebut ke mini market terdekat.
(Ngga usah nyinggung soal going green, deh. Gue ngga bisa naik sepeda, dan kalo jalan kaki malah jadi lama. Emang orang mau nunggu berapa lama sih buat secangkir kopi?)
Di dompet saya cuma ada Rp 20 ribu. Sebenarnya sekantong kopi tubruk rasa spesial harganya cuma Rp 7 ribu perak. Tapi saking gemesnya, saya ambil saja beberapa kantong kopi dengan rasa beragam. Ada kopi Aceh, kopi Lampung, dsb. Keluar dari kasir, saya cuma dapat kembalian Rp 1.000.
Saya ngebut kembali ke rumah. Istri saya dengan inisiatifnya sudah menjerang air. Dia langsung membuka plastik yang saya bawa. “Lho, ini kopinya kok banyak amat?”
“Iya, sengaja, siapa tau dia mau coba rasa kopi yang beda.” Kata saya memberi alasan.
“Yang rasa special aja juga enak. Udah yang ini aja,” katanya sambil menarik kantong kopi yang Rp 7 ribu tadi.
“Ini sisanya mau diapain?” tanya istriku.
“Ya udah, nanti gue bawa buat ngopi di kantor, deh!”
Air panas sudah mendidih. Istriku langsung menuangkan ke dalam teko plastik di mana dia sudah menaruh beberapa sendok bubuk kopi, lalu mengaduk-aduk.
Tinggal tuang kopi dalam cangkir, dan campur dengan air panas, kan?
Maaf, saudara-saudara. Tidak semudah itu. Emangnya orang bule bisa minum kopi campur ampas, seperti minum kopi di warung?
“Saringan! Ada saringan, ngga?”
“Adanya saringan buat sayur!”
“Yah, sama aja bohong dong? Lubangnya kegedean! Saringan yang halus ngga ada?”
“Ngga ada.”
“Filter coffe maker yang waktu itu kita beli, di mana?”
“Ngga tau. Ambil saringan teko yang buat bikin teh aja!”
“Emangnya bisa?”
“Bisa! Ambil aja di atas, sekalian tekonya.”
Sambil berlari ke atas, saya menyesali, kenapa tidak dari kemarin terpikir untuk membawa pulang coffee makerku dari kantor?
Singkat cerita, akhirnya dua cangkir kopi hitam terhidang. Tidak lupa satu toples gula, dan krimer bubuk, siapa tahu butuh.
Tanpa menambahkan apa pun, suami sepupuku langsung menyeruput kopinya.
“Hm, this is good coffee!” komentarnya.
“I hope it’s not too strong,” kataku.
“Oh no,” sambung sepupuku, “there’s no such thing as ‘too strong’ coffee for him.”
Lega.
Sambil saya ngebut-ngebut tadi, saya jadi terpikir sesuatu. Sepertinya selama ini kami sudah terbiasa dengan kopi yang sudah dicampur gula dan susu dari pabriknya. Sudah keenakan. Sehingga tidak terpikir untuk menyediakan kopi tubruk murni di rumah.
Saking terlalu enak, jadi malas untuk campur-campur kopi sendiri. Beli yang sudah jadi saja, biar tidak pusing.
Seolah kita sudah menyerahkan selera kita pada pabrik. Tanpa sadar, kita jadi terbiasa membiarkan orang lain menentukan apa yang cocok buat kita.
Padahal, jujur saja kopi campuran pabrik itu seringkali terlalu manis. Kita tidak tahu berapa banyak kopi, berapa banyak gula, berapa banyak krim yang dicampur ke dalamnya. Saya sendiri tidak begitu suka kopi yang terlalu manis.
Saya teringat dengan kantong-kantong kopi yang sudah saya beli. Ya harus dihabiskan, dong.
Setidaknya, sebulan ke depan saya ‘terpaksa’ harus berani membuat kopi sendiri. Menentukan selera sendiri. Tidak bergantung pada pabrik. Tidak bergantung pada orang lain.
