Meramu Bubur Terlezat

Meramu Bubur Terlezat

Saya memutuskan kembali ke pola diet saya. Sejujurnya, ini bukan hal yang mudah. Saya sudah sempat dimanjakan dengan makan apa saja yang saya suka antara bulan September sampai Januari ini.

Pagi ini saya kembali membeli sarapan di tukang bubur ayam langganan saya. Dia berjualan di depan dealer motor Honda yang bersebelahan dengan Kantor Cabang Pembantu BCA di jalan Pegambiran, Rawamangun. Menurut saya, ini adalah salah satu bubur ayam terenak yang saya tahu.

Bubur ayam punya 5 bahan campuran yang membuatnya terasa gurih, dan memberinya tekstur renyah: kerupuk udang, emping melinjo, cakwe, kacang kedelai, dan kecap manis.

Dan tahukah anda apa yang dokter saya larang bila mau makan bubur ayam? Ya kelima bahan tadi. Karena digoreng, kerupuk, emping, cakwe dan kacang mengandung kalori, lemak dan kolestrol yang cukup tinggi. Kecap manis mengandung kadar gula yang tinggi.

Sepanjang jalan menuju tempat tukang bubur itu berjualan, saya menimbang-nimbang. Apakah saya akan minta satu porsi bubur dengan campuran lengkap seperti yang kemarin saya nikmati, atau setengah porsi tanpa kelima bahan enak tadi?

Setelah memarkir mobil, saya berjalan menuju gerobak bubur yang ramai dikelilingi oleh pembeli. Pemiliknya sedang mengawasi bawahannya melayani pembeli. Saat melihat saya, dia tersenyum dan mengangguk, lalu menginstruksikan seseorang untuk melayani pesanan saya.

Bila saya tidak bilang apa-apa, maka penjual bubur akan secara proaktif menyiapkan satu porsi bubur lengkap dalam kemasan untuk dibawa. Jujur, besar sekali godaan untuk berdiam diri saja, untuk nanti pergi dengan seporsi bubur komplit yang lezat.

“Bang, buburnya setengah saja. Tidak pakai kerupuk, emping, cakwe, kacang dan kecap ya.”
“Kuahnya?”
“Kalau kuah pakai.”
“Bawang goreng?”
“Ya.”
“Seledri?”
“Ya.”

Di kantor saya mengaduk bubur pesanan khusus itu sampai semua bahannya tercampur rata. Kemudian saya mulai makan.

Enak juga, sekalipun tanpa 5 bahan tadi.

Yes, berhasil mengawali hari pertama dengan baik.